“Aku selalu jealous kalo liat orang pake sneaker, aku gak pernah tahan lama pake sneaker, ujung-ujungnya pasti ganti sandal jepit” kataku pada shera
Kuangkat sandal jepitku dan nampak peniti yang masih mengganjal di bagian belakangnya. Ini adalah usahaku mempertahankan sandal jepit ini setelah sebelumnya aku terpaksa membakar bagian belakangnya agar menyatu lagi seperti di lem. Sandal ini akhirnya jebol ketika aku di perjalanan menuju plaza semanggi minggu lalu, aku berkeliling toko di lantai bawah untuk menemukan gantinya, namun aku tak menemukan satupun sandal jepit yang membuatku jatuh cinta. Alhasil aku pun berjalan sambil menggeret sebelah kakiku sampai perjalanan pulang.
Aku punya cerita unik mengenai sandal jepit coklatku. Semua orang bilang sandal ini tampak sangat jadul, bukan soal itu, tapi kupikir sandal ini tampak cocok dengan jari-jari kakiku yang lebar. Itu sebabnya kubeli sandal plastik ini seharga Rp.39000. Seperti kebiasaanku pada umumnya, aku hanya akan memiliki satu sandal jepit dan tidak akan menggantinya sebelum sandal itu benar-benar rusak, dalam artian tidak dapat kuperbaiki lagi. Pemilihan sandal jepit pun tidak main-main, aku harus benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi walaupun sudah saatnya membeli sandal jepit baru, aku akan memilih untuk memperbaikinya dulu sebelum aku benar-benar menemukan sandal jepit yang tepat sebagai penggantinya. Bisa kubilang, soal sandal jepit adalah sesuatu yang sakral bagiku. Seringkali aku sendirian dalam perjalanan-perjalanan jauh, sandal jepit adalah sebuah kenyamanan yang wajib, karena ia yang akan menentukan kenyamanan dimanapun aku berada. Meskipun gara-gara sandal jepit pula aku kehilangan waktu pelesir di singapura karena kakiku sakit akibat kapalan, hehe. Itu karena selama perjalanan di india aku memakai sandal jepit dari bahan plastik yang tidak tahan panas.
Aku selalu menyukai sneaker, namun sejauh aku berjuang, aku hanya kuat tidak lebih dari 2 jam bersepatu. Dasar kampungan. Ketika berangkat ke india pun aku sudah memutuskan akan memakai sneaker, namun itu hanya bertahan hingga di cengkareng. Di detik-detik terakhir aku menggantinya dengan sandal jepit, alasannya agar mudah melepasnya ketika mau mengangkat kaki. Hehehe. Ya, dimanapun berada aku sulit menghilangkan kebiasaan mengangkat kaki ke atas kursi, jadi memakai sneaker akan mempersulitku melakukan hal ini.
Sejak beberapa hari yang lalu sudah kuputuskan bahwa sandal jepitku akan segera menemui ajalnya. Untuk kesekian kalinya, talinya lepas lagi dan sudah tidak mungkin kuganjal dengan peniti lagi atau kubakar lagi bagian belakangnya. Namun sebelum itu, layaknya kubuatkan tulisan ini sebagai tanda terimakasihku atas kesetiaannya menemani perjalananku selama ini.









