smile     smile     smile     smile     smile     smile     smile     smile    smile      smile     smile    smile      smile     smile     smile      smile      smile      smile     smile

I sing the body electric, The armies of those I love engirth me and I engirth them, They will not let me off till I go with them, respond to them, And discorrupt them, and charge them full with the charge of the soul. Was it doubted that those who corrupt their own bodies conceal themselves? And if those who defile the living are as bad as they who defile the dead? And if the body does not do fully as much as the soul? And if the body were not the soul, what is the soul? (I Sing the Body Electric by Walt Whitman)

Jul 12, 2009

Sandal Jepit VS Sneaker

“Lucu banget she” begitu komentarku pada shera suatu siang sebelum kami berangkat menuju mangga dua. Shera kebingungan, kutunjuk sneakernya.
“Aku selalu jealous kalo liat orang pake sneaker, aku gak pernah tahan lama pake sneaker, ujung-ujungnya pasti ganti sandal jepit” kataku pada shera

Kuangkat sandal jepitku dan nampak peniti yang masih mengganjal di bagian belakangnya. Ini adalah usahaku mempertahankan sandal jepit ini setelah sebelumnya aku terpaksa membakar bagian belakangnya agar menyatu lagi seperti di lem. Sandal ini akhirnya jebol ketika aku di perjalanan menuju plaza semanggi minggu lalu, aku berkeliling toko di lantai bawah untuk menemukan gantinya, namun aku tak menemukan satupun sandal jepit yang membuatku jatuh cinta. Alhasil aku pun berjalan sambil menggeret sebelah kakiku sampai perjalanan pulang.

Aku punya cerita unik mengenai sandal jepit coklatku. Semua orang bilang sandal ini tampak sangat jadul, bukan soal itu, tapi kupikir sandal ini tampak cocok dengan jari-jari kakiku yang lebar. Itu sebabnya kubeli sandal plastik ini seharga Rp.39000. Seperti kebiasaanku pada umumnya, aku hanya akan memiliki satu sandal jepit dan tidak akan menggantinya sebelum sandal itu benar-benar rusak, dalam artian tidak dapat kuperbaiki lagi. Pemilihan sandal jepit pun tidak main-main, aku harus benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi walaupun sudah saatnya membeli sandal jepit baru, aku akan memilih untuk memperbaikinya dulu sebelum aku benar-benar menemukan sandal jepit yang tepat sebagai penggantinya. Bisa kubilang, soal sandal jepit adalah sesuatu yang sakral bagiku. Seringkali aku sendirian dalam perjalanan-perjalanan jauh, sandal jepit adalah sebuah kenyamanan yang wajib, karena ia yang akan menentukan kenyamanan dimanapun aku berada. Meskipun gara-gara sandal jepit pula aku kehilangan waktu pelesir di singapura karena kakiku sakit akibat kapalan, hehe. Itu karena selama perjalanan di india aku memakai sandal jepit dari bahan plastik yang tidak tahan panas.

Aku selalu menyukai sneaker, namun sejauh aku berjuang, aku hanya kuat tidak lebih dari 2 jam bersepatu. Dasar kampungan. Ketika berangkat ke india pun aku sudah memutuskan akan memakai sneaker, namun itu hanya bertahan hingga di cengkareng. Di detik-detik terakhir aku menggantinya dengan sandal jepit, alasannya agar mudah melepasnya ketika mau mengangkat kaki. Hehehe. Ya, dimanapun berada aku sulit menghilangkan kebiasaan mengangkat kaki ke atas kursi, jadi memakai sneaker akan mempersulitku melakukan hal ini.

Sejak beberapa hari yang lalu sudah kuputuskan bahwa sandal jepitku akan segera menemui ajalnya. Untuk kesekian kalinya, talinya lepas lagi dan sudah tidak mungkin kuganjal dengan peniti lagi atau kubakar lagi bagian belakangnya. Namun sebelum itu, layaknya kubuatkan tulisan ini sebagai tanda terimakasihku atas kesetiaannya menemani perjalananku selama ini.


Read More..

Jul 9, 2009

I miss him so much


this is the guy who has stole my heart and took my wings
hope the universe will bring you back to me
if not in this world, the moon would love to give us space

Read More..

Jul 4, 2009

Silent Light

Ada saat-saat senyap dimana yang tampak hanyalah kegelapan malam di balik jendela-jendela yang dingin dan kaku. Setiap perjalanan selalu menghadirkan denting sunyi, kesadaran yang begitu nyata dimana kulihat bagian diriku tercecer di jalanan. Di balik jendela itu ada kota-kota yang mencitrakan dirinya dalam denting sunyi di diriku. Ada lampu malam jakarta, hujan badai di india, gelap pekat pesawahan menuju pare, keramaian kuta bali, deru ombak di pantai bingin, liku terjal jalanan malangbong menuju tasik, atau jalanan menuju jogja yang kuanggap sebagai pintu rumahku.

Aku tak punya arah melangkah, seperti athena yang mendengarkan suara Sang Ibu, aku melawan jalan yang telah ditakdirkan bagi mereka yang ingin mudah meraih kebahagiaan dalam hidup. Dalam setiap langkahku ada ketakutan yang sekaligus menjelma menjadi kekuatan untuk berhadapan dengan rahasia di balik pintu-pintu yang tertutup.

Aku tak sebijaksana Khalil Gibran yang memilih untuk memberi daripada menerima. Aku mencari jiwa yang sesungguhnya telah di titipkan di semesta. Yang kubutuhkan adalah seorang guru, mereka yang telah bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar sebagai manusia, mereka yang telah mencari lalu dicobai untuk menemukan keselarasan dengan hidup. Aku menemukan cahaya ini pada dua sosok perempuan yang baru saja kutemui dalam dua bulan terakhir ini, Radhika Chandiramani dan Melani Budianta. Bagiku suatu takjub melihat citra keanggunan dalam sosok yang jelas melangkah melawan jalan yang dilalui oleh kebanyakan orang. Namun dalam langkah itu aku melihat mereka telah menemukan keanggunan yang hanya bisa di peroleh melalui proses yang sulit. Tak hanya proses memahami ilmu pengetahuan, namun juga proses spiritual yang didalamnya penuh dengan dera.

Bagiku, mempelajari segala sesuatu hanya seperti menambah beban otak dan kemudian menjadikannya sampah yang hanya mengotori kenaifan. Untuk apa aku memahami kebusukan dunia ini? Mengenal simbol-simbol dan pertanda yang telah sedemikian rupa disakralkan oleh tetua kita demi kekuasaan dan keuntungan segelintir orang? Semuanya hanya membusuk di dalam fikiranku dan mencegahku melihat kemungkinan-kemunngkinan terbaik dan mempesona yang ditawarkan hidup kepada diriku. Yang kubutuhkan adalah spiritualitas, sesuatu yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku dan membuatku merasa diinginkan, dicintai dan dilindungi.

Aku ingin pergi ke ashram.

Read More..

Lelucon Jilbab Menjelang Pilpres

Isu jilbab kembali mencuat menjelang pemilihan presiden 8 juli mendatang. Isu ini berpangkal pada pertarungan dua kubu yaitu kubu JK-Wiranto dimana kedua pendampingnya memakai jilbab, dan kubu SBY-Boediono dimana kedua pendampingnya tidak menggunakan jilbab. Isu ini cukup mempan untuk mengobrak-abrik umat islam yang menjadi pemilih terbanyak dalam pilpres yang akan datang.

Gambar JK-Wiranto dengan kedua pendampingnya yang memakai jilbab terpasang di mana-mana, hal ini cukup mengambil simpatik banyak umat islam yang merasa bahwa tampilan kedua perempuan berjilbab ini adalah salah satu ikon yang akan membawa kebaikan bagi bangsa ini.

Apa hubungannya jilbab dengan negara?

Hari ini sebuah acara tahlilan di selenggarakan di kampung halamanku, herannya tidak semua anggota keluarga di undang ke acara ini. Tidak salah duga, ternyata acara tahlilan ini menjadi salah satu medan kampanye. Sepulang dari acara tahlilan, setiap orang mengantongi uang puluhan ribu plus beberapa lembar brosur JK-Wiranto. Yang menarik adalah dalam brosur ini tidak dijelaskan mengenai program JK-Wiranto, melainkan berisi pembahasan mengenai betapa pentingnya seorang perempuan berjilbab sebagai pendamping pemimpin bangsa ini.

Dalam brosur tersebut dijelaskan bahwa kriteria pendamping yang ideal menurut islam adalah :
  1. Sholehah
  2. penyejuk Rumah Tangga
  3. Motivator bagi suami dalam menjalankan tugas
Nah, disebutkan pula bahwa salah satu pertanda wanita sholehah adalah jika ia menggunakan jilbab, itulah sebabnya disarankan agar umat islam memilih JK-Wiranto karena kedua pendampingnya tampil islami dengan jilbab dan busana yang sederhana. Lucu sebenarnya, karena kalau betul-betul diamati tentu kita tahu bahwa busana yang mereka pakai bukan busana murahan, pastinya busana mahal dan buatan desainer, lalu letak sederhana nya dimana?

Pertanyaannya adalah, apakah jika ia tidak berjilbab maka tak dapat di anggap sholehah?
Kita jangan lupa bahwa Sriatun, si pemilik klinik aborsi di jakarta yang baru saja tertangkap awal tahun ini juga memakai jilbab, bukankah ia sholehah juga? Terlepas apapun pekerjaannya..

Isu jilbab ini hanya satu dari gelitik politik menjelang pilpres. Walaupun harus kuakui bahwa isu jilbab ini memberikan hikmah buatku. Begini ceritanya,

Hanya aku satu-satunya yang tidak berjilbab di keluarga. Aku menanggalkan jilbab semenjak 9 tahun yang lalu. Ini cukup menjadi permasalahan yang pelik di dalam keluargaku. Meskipun banyak yang tersenyum dan menerimaku dengan hangat di tengah keluarga besar, namun aku tak terlalu naif untuk percaya bahwa mereka tak mencibir di belakangku.

Aku tetap berjilbab jika pulang ke rumah ibuku, ini kulakukan sebagai negosiasi. Ketika aku berada di wilayah kekuasaan ibuku, maka aku perlu menghormati dan mengikuti aturannya. Toh ibuku juga tahu bahwa selain di rumah aku tak memakai jilbab. Awalnya aku menolak untuk pulang dan memakai jilbab, namun setelah aku mendiskusikan ini dengan Rino, ia berhasil meyakinkanku bahwa penghormatan terhadap seorang ibu jauh lebih tinggi daripada sebuah idealisme yang ku anut. Aku ingat ia mengatakan : apa artinya mengorbankan idealisme hanya untuk 2 atau 3 hari dalam sebulan untuk seorang ibu yang jelas-jelas mengorbankan segalanya untuk anaknya sepanjang hidupnya.

Beberapa tahun yang lalu aku akhirnya berjibaku air mata dengan ibuku soal jilbab. Ibuku akhirnya dapat menerima hal ini setelah aku berjanji padanya bahwa aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik daripada ketika aku berjilbab dulu. Dua idealisme yang bersebrangan akhirnya melebur. Pada akhirnya aku dan ibuku sadar bahwa soal aku berjilbab atau tidak bukan lagi sebuah persoalan besar. Kalaupun pada akhirnya aku berjilbab, itu adalah karena kesadaranku sendiri. Kami berdua berusaha sedemikian rupa untuk memperbaiki kualitas hubungan kami. Dan alhamdulilah, aku bahagia dengan hubungan kami kini.

Kembali ke isu jilbab menjelang pilpres.

Keluarga kecilku yang sebelumnya selalu melihat jilbab sebagai titik tolak awal keislaman seseorang tiba-tiba kini mulai tersadarkan. Kebetulan mereka mendukung SBY-Boediono. Pertanyaanku adalah : bagaimana bisa memilih mereka yang pendampingnya tak berjilbab?
Ibuku menjawab dengan gamblang bahwa yang akan memimpin negeri ini adalah SBY-Boediono, bukan istri mereka. Ia juga mengutip perkataan Tifatul Sembiring bahwa jilbab takkan menyelesaikan permasalahan negara. Aku sengaja memancing ibu dan kakak perempuanku mengenai isu jilbab ini, dan aku cukup bangga dengan pandangan mereka yang tak lagi begitu kolot melihat permasalahan jilbab.

Gelitik jilbab ini mengingatkanku pada sejarah jilbab di negeri ini. Jilbab yang tadinya bermuatan politis dan merupakan ikon perlawanan, kini telah menjadi bagian budaya populer., bahkan industri yang menggiurkan. Lucunya, jika dulu jilbab dipakai oleh orang-orang di bawah untuk melawan kekuasaan, kini justru sebaliknya, jilbab dipakai sebagai alat kekuasaan untuk meraih massa.

Siapapun yang anda pilih, bersikaplah bijak !

Read More..

Liberation for gay/Lesbian in India

“20 years of struggle..pays off. Legal status. Liberation and a life..finally! Hurrrrrrrrray”
- Facebook Update Status of A Friend on Saturday 04 June 2009 -


Aku sangat berbahagia untuknya, meskipun ia hanya satu dari segelintir kaum homoseksual di india yang kukenal dengan baik. Kebahagiaan ini tentunya dirayakan oleh seluruh kaum homoseksual, tidak hanya di india namun juga di belahan dunia lainnya. Ini adalah sebuah kemenangan, tidak hanya bagi kaum homoseksual, namun juga bagi para aktivis yang selama ini mendukung perjuangan mereka.

377 selalu menjadi angka yang kontroversial di india, dalam pasal inilah ditegaskan bahwa homoseksual adalah sesuatu yang di anggap kriminal dalam hukum yang berlaku di india. Setelah puluhan tahun berjuang, akhirnya pasal tersebut dihapuskan oleh pengadilan New Delhi, dan sebagai gantinya ditetapkan bahwa konsensus seks sesama jenis adalah legal.

Ini adalah sebuah pembebasan. Sudah selayaknya dirayakan dengan senyum dan doa. Selamat, enjoy !

Read More..

Jun 24, 2009

Closed Contact by Jenny Saville


Is'nt it Beauty ?

Read More..

Jun 5, 2009

Hypnotic State, Dream state and Reality

Oh My God, i've just realize something...ternyata selama ini gw hidup di dalam hypnotic state, sekalinya gw mencoba meditasi, itu membawa gw ke dream state. Relaxation, peace dan resentless yang gw rasakan selama ini ternyata ada di dream state. What the hell is this? Where is the reality?

Kebanyakan dari kita hidup di hypnotic state. Konstruksi sosial, budaya, hukum dan agama telah mengkondisikan kita dalam situasi tertentu yang memacu kita untuk memenuhi berbagai tuntutan sebagai sebuah keharusan. Dan kita terhipnotis oleh semua itu. Kita yakin bahwa itulah kehidupan ideal yang harus kita wujudkan. Ketidakmampuan memenuhi tuntutan tersebut seringkali membuat kita frustasi. Misalnya, merasa menjadi perempuan/lelaki yang tidak baik, anak tidak berguna, manusia yang berdosa, warga negara yang buruk dll. Hypnotic state ini telah telah diturunkan dari satu masa ke masa lainnya. Untuk apa? Tujuannya mungkin untuk mempertahankan kekuasaan, kesakralan atau apapun itu. Tentu saja salah satunya sebagai alat kontrol.

Dunia ini gila. Kita hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan, prasangka. Tak selalu buruk, namun seringkali begitu. Itu sebabnya sebagian orang mencoba mencari kedamaian di tengah dunia yang gila ini. Salah satunya adalah dengan mencari dan menciptakan kedamaian di dalam dirinya. Sebagian melakukannya dengan meditasi, yoga atau melakukan ritual keagamaan. Namun, apakah kedamaian dan ketenangan yang di dapat benar-benar merupakan real state? Atau hanya dream state?

Aku cukup lihai menggunakan kekuatan pikiran untuk membantu pekerjaanku sehari-hari, menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, bahkan menghubungkan satu personal dengan personal lainnya dalam sebuah pengkondisian. Hal ini positif ketika kulakukan untuk menunjang pekerjaanku sebagai konselor. Seiring dengan waktu, aku mulai melatih pikiranku untuk autocontrol terhadap situasi-situasi tertentu yang darurat.

Autocontrol ternyata tak selalu baik. Apalagi autocontrol terhadap pikiran kita sendiri. Ada saatnya pemusatan pikiran ini terjadi pada saat meditasi, alih-alih melakukan law of attraction, bisa jadi justru menciptakan sebuah kondisi imaginer yang terkontruksi dengan baik bak sebuah film. Semuanya tertata dan terencana. Jika kondisi itu “too good too be true” atau “never been real” maka bisa jadi itulah dream state. salah satu tujuan meditasi adalah membawa kesadaran. Nah...

Lalu bagaimana membedakan harapan, mimpi, dream state dan overeaction imaginations?
Dimana batasan unconscious, subconscious dan conscious? Pada setiap state tersebut, gelombang apa yang berpengaruh? Waah...butuh satu bab tulisan lagi kayaknya. Belum, nanti ya..aku explore dulu.

Read More..
smile     smile     smile     smile     smile     smile     smile     smile     smile    smile      smile     smile    smile